Sunday, November 26, 2017

TIDAK ADA LAGI CERITA SI ADEK KECIL ITU

Berlahan aku turun dari rangkang bambu peninggalan ayahku, setelah dua jam lebih kumenidurinya, karena aku rindu. Ayah telah pergi meninggalkan kami, saat ceritanya belum usai dan ia menjanjikan akan melanjutkan lebaran kali ini. Sendal jepit yang kupakai, sedikit mewakili rasa sayangnya. Sandal yang sangat kujaga, sandal milikinya, yang hanya di boleh kan aku yang memakai, begitu kata ayah saat aku menangis di ganggu sang kakak.
Takkan ada yang bisa melanjutkannya, cerita adilk kecil yang menangis lantaran di tinggal ibunya pergi ke sawah, putus ditengah jalan. Seiring dengan ayah meninggalkanku pergi untuk selamanya, akibat brondongan senjata para serdadu perang, begitu kata Ibu. Suara takbir itu, membangunkan ingatanku pada ayah.
Banyak ayah dengan pakaian muslimnya menuju mesjid. Dulu ayah juga begitu, ke mesjid bersamaku menunaikan ibadah shalat hari raya. Di pagi lebaran ini, tidak ada ayah yang mengajakku ke mesjid. Aku menggunakan pakaian muslim sebagaimana yang ayah pakaikan padaku waktu pagi lebaran, tapi pagi ini aku hanya pergi kepusaranya. Aku tidak mematuhi permintaan ibu, agar kami bisa pergi bareng kakak.
Pusara ayah terletak di pemakamam umum. Hanya butuh dua menit menuju ke sana. Lorong yang luas dua meter itu kutelusuri sendiri. Burung yang berdiri di dahan kayu kering bersiul, mengiringi langkah pelanku. Rumput sepanjang pinggiran lorong membelai lembut kaki mungilku dengan sendal yang melebihi ukuran kaki kebelakang. Tumpukan tanah liat yang kuinjak, juga ikut bersamaku menuju pusara. Tumpukan tanah liat yang menempel di sendal memberatkan gerak langkah, tapi menjadikan semangat dan semakin mudah untuk kugerakkan, tanah liat kujadikan teman menuju pusara ayah.
Assalamualaikum Ayah. Ini anakmu datang. Linangan air mata dan mulutku yang bergetar. Aku mencoba mengatur kalimat, aku ingin berbicara dengan ayah, aku merindukan ayah di sela takbir hari ini, aku menuntut janji ayah, melanjutkan cerita adilk kecil yang menangis lantaran di tinggal ibunya pergi ke sawah. Ayah katakanlah sesuatu.
Aku hanya bisa menangis dan tertunduk kaku di pusaranya. Hujan rintik mengantarku menemui ayah.
"Waalaikum salam anakku Ahmad." Mendengar jawaban itu. Aku terkejut, kini aku berdiri ,melepaskan senyum dan pelukan manja dengannya. Ayah membelaiku, menggendongku dan kami duduk di anta pepohonan kemiri yang di tanamnya sewaktu diriku belum ada. Beberapa kali dia mencubit pipiku dan menciuminya.
"Ada apa nak! Menemui ayah sendiri..?"
"Kok ayah tanyanya begitu.?"
"O..hoho... maaf abang ganteng, ada apa kamu kenapa menangis, biasanya, yang nagis itu adek kecil."
"Aku menuntut janji Ayah. Kata ayah nanti waktu pagi lebaran, akan melanjutkan menceritakan cerita adilk kecil yang menangis lantaran di tinggal ibunya pergi ke sawah, tapi ayah kenapa ingkar."
"Maaf nak. Ayah lupa."
"Sekarang ceritakan ayah.”
“Begini, setelah adek kecil itu menangis beberapa menit, lalu ia tertidur di pangkuan sang ayah. Entah berapa tahun dia tdak pernah menangis lagi, dan sekarang adek kecil itu sudah besar, kamu tau di mana dia sekarang?” Tanya ayah padaku. Aku hanya menggeleng kepala, lalu berdiri dan tersenyum pada ayah.
“Emang di mana dia Yah..?” Tanyaku sepontan.
“Emang kamu ngak tau di mana dia. Dia ada di depan ayah.”
“Maksud Ayah! Ahmad yang ayah sebutkan dalam cerita itu.”
“Iya nak!” Ayahku mengangguk beberapa kali, lalu menghapus linangan air matanya.
“Kenapa ayah menangis?”
“Ayah berpesan padamu nak. Tidak ada lagi cerita adek kecil yang menangis itu, dia sekarang sudah besar dan dewasa. Dia akan menjadi pengganti ayah hidup di dunia, dia dan kamu teruslah berjalan menantang dunia, teruslah berjalan nak.. teruslah dan hadapi dunia.” Setelah beberapa kali menyebut-nyebut kalimat yang sama. Lalu ayah menghilang dalam pandangan mata.
Hujan rintik itu membasahi seluruh tubuhku, aku terjaga. Berlahan mataku ku buka. Aku melihat remang Ibu, menuju arahku dengan menggunakan payung. Dia menggendongku dan pulang, aku menggigil, demam, pilek dan bersyin-bersyin. Dengan bantuan pamanku Cek Din, aku di bawa kementri.
Hari-hariku kini kuhabiskan tanpa ada adik kecil itu. Canda dan tawa kami bersama Ibu dan seorang Bibi yang tunanetra, bersaiang dengan para orang kaya kampungku[].

Bluek, 04 Desember 2013
Nama Pena : Jabal Bluek
Nama Adm : Muhammad Jabannur, SHI, MAP

Pekerjaan : ASN di Jajaran Pemerintah Kabupaten Pidie

BASYAH GEULANTEU CANG

Basyah geulanteu Cang, begitu nama yang akrab disapa pada seorang lelaki paruh baya yang telah menduda sejak tahun 2001. Isterinya meninggal dunia saat melahirkan anak ketiganya. 

 Maya gadis imut yang dipersunting Basyah pada tahun 1993 itu belum sempat menamatkan Sekolah Menengah Pertama. Maya baru beberapa bulan duduk di bangku kelas Dua dan akhirnya dinikahkan dengan Basyah yang telah berumur 43 tahun.
Pada suatu hari di tahun 1993. Basyah pulang dari sawah dengan sekarung pakan lembu jantannya. Bertepatan di tingkungan jalan menuju sekolah. Basyah melihat Maya. Karung pakan lembu di letakkan di pinggiran jalan begitu saja. Maya bersama rekan putri yang lain, tak tersirat apa-apa dalam benak akan kemungkinan terjadi sesuatu, padahal Basyah sedang mengekori mereka dengan sepeda yang di dorongnya.
Satu persatu teman Maya, sampai di rumah. Maya yang rumahnya di ujung lorong, kini tinggal sendiri berjalan dengan di ekori Basyah. Setibanya maya di rumah. Basyahpun menghentikan gerak langkahnya, lalu menatap Maya yang sedang membuka sepatu sekolah. Maya membuka pintu dan masuk kerumah, Basyah membalikkan sepeda dan  pulang, dengan senyuman dan beberapa kali menggeleng kepala.
“Hai siapa kamu? Kok senyum sendiri?” Tanya seorang kakek.
“Oh. Saya Basyah kek.” Jawabnya berlahan.
“Mengapa tersenyum sendiri? Dan untuk apa kemari?”
“Saya senang kek. Saya baru saja mengantarkan Maya pulang dari sekolahnya. Saya pulang kek. Wassalamualaikum”
“Waalaikumsalam.” Tgk. Daud tercengang, mendengar kalimat yang di jawab Basyah, seolah dia tak percaya, kalau anak gadisnya yang masih ingusan itu di antar oleh seorang lelaki yang empat puluh tahun lebih tua dari anaknya, bahkan dengan pakaian berlumpur. Yang sangat tidak dia mengerti, mengapa maya mau diantar si lelaki tua itu. Diapun tidak mau ambil pusing, lalu disimpulkan dengan kata-kata “Kalau memang sudah cinta apapun bisa terjadi, kalau memang jodoh kemana pergi akan bertemu juga.” Diapun sedikit tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
Dalam perjalanan pulang Basyah begitu santai mengayuh sepeda. Lorong bebatuan dan beberapa bagian badan jalan terendam air,  yang membuat sepeda Basyah bersuara “Geureukhek..khek..khek,..khek...Geureudhing...dhing..dhienn..” Terus terdengar disepanjang lorong kampung Maya,  Basyahpun bersiul dengan menyanyikan lagu P. Ramle,
Kalau jodo takkan kemana, adinda idaman kanda. Biar gelap alam maya kucari dinda baru jumpa. Mengapa kurindu sayu, adinda kutungu-tunggu. Walau aral datang menghalang dinda rindu tetap kusayang, kalau jodoh tak kemana....”
Di hari berikutnya. Basyah masih saja mengekori Maya, seolah mengantarkan Maya ke rumah. Hal ini berlangsung selama belasan hari saja. Melihat kecerian Basyah. Kakak tertuanya terheran-heran, lalu dia membatin “Tidak sepertinya Basyah seperti ini.” 
Keluarga Basyahpun mengelar rapat, dari berbagai pertimbangan termasuk mengingat umur Basyah yang sudah berkepala empat. Merekapun memutuskan menanyakan Basyah tentang janjinya setahun yang lalu, bahwa ia akan menikah di tahun ini.
“Basyah. Katakan yang sebenarnya.! Apakah benar, kamu mau menikah di tahun ini, sebagaimana janji kamu setahun lalu.?”
“Ya Kak. Basyah sudah siap dan wanita itu adalah Maya. Anak tetangga kampung kita. Dia bersekolah di SMP belakang rumah kita”
“Wadduh...masih SMP. Basyah..Basyah, bercerminlah kamu. Mana mau diakan masih anak-anak, sedangkan kamu.”
“Kak. Kalau jodoh takkan kemana. Ingat itu. Aku menyukainya, aku hanya akan menikah sama dia, bukan dengan yang lain titik.”
Kakak Basyah menghela nafas panjang. “Anak siapa dia.?”
“Aku hanya mengetahui rumahnya saja. Biar Kakak, saya yang antarkan kerumah Maya, aku akan berdiri jauh beberapa puluh meter dari rumah itu.”
“Baiklah. Ayo kita pergi.”Mereka tiba di Rumah Maya. Dari jauh Basyah melihat Tgk. Daud berdiri dan menyambut Kakak Basyah. Basyah sangat terkejut melihat pemandangan itu. Kakak Basyah masuk kedalam, setelah Basyah menunggu belasan menit, matanya kembali melihat pintu rumah Maya. Tiba-tiba, dari arah pintu keluar Kakak Basyah, di susul Tgk. Daud dan Isterinya begitu juga dengan Maya berdiri berbaris di depan pintu, arah telunjuk Kakak Basyah di arahkan padanya. Basyah dengan spontan berpaling malu-malu.
Hanya hitungan menit, Kakaknya Basyah berada di belakang sepeda. Basyah mendayung sepeda. Beberapa kali Basyah menanyakan mengenai tanggapan keluarga Maya atas pinangannya. Namun jawaban sang Kakak tetap sama nyakni di jawab sesampainya dirumah nanti. Basyahpun melajukan sepeda dengan kencang. Sesampainya di rumah, memarkirkan kereta langsung memegang tangan Kakaknya.
“Katakan Kak. Apa jawaban Tgk. Daud dan bagaimana tanggapan Maya, apakah dia mau menjadi isteriku?” Kakak Basyah hanya terdiam, wajahnya terlihat sangat kebingungan.
“Kok bisa ya...” Kalimat yang sempat beberapa kali keluar dari mulut Kakak Basyah.
“Memangnya kenapa..Kak.?”
“Kok bisa ya..Tgk. Daud menyetujui pernikahan ini, dan mereka berharap bisa dilangsungkan pernikahan hari kamis lusa.”
“Alhamdulillah..”
Pernikahanpun berlangsung dengan sederhana. Dua tahun pernikan, mereka di karunia seorang anak perempuan, lima tahun pernikahan mereka dikarunia seorang anak perempuan lagi dan tahun ke delapan pernikan mereka di karunia seorang putra dan Mayapun meninggal Dunia.
Meninggalnya Maya, menjadikan hidup Basyah suram. Terasa separuh badannya hilang, kini dia menghidupi ketiga anaknya. Sabar dan tabah membalut keluarga besar Tgk. Daud, mereka bersama-sama membina dan membimbing anak Maya dan Basyah. Hari-hari mereka penuh dengan senyum dan kata-kata senda yang di lontarkan pada sang ayah.
Sangat sering para sahabat dekat Basyah menyarankan agar ia menikah lagi. Namun Basyah dengan lantang menjawab. “Tidak akan pernah menyukai dan jatuh cinta, pada wanita manapun.”
“Ah. Yang benar kamu Basyah.”
“Beu dicang legeulanteu jeut hana kugalak le.”
Pada suatu hari selesai upacara 17 Agustus. Basyah yang baru pulang dari pasar Ibu Kota Kecamatan, melintasi di depan jalan lapangan. Banyaknya anak-anak yang baru keluar dari lapangan membuat Basyah harus mendorong sepedanya.
Mata Basyah secara tak sengaja terarah, kepada seorang gadis cantik dan mulus, yang masih duduk di bangku SMA. Kurumunan anak-anak di jalan telah dilewatinya, tapi Basyah masih saja mendorong kereta, gadis itu hanya berjalan sendiri, hanya beberapa puluh meter diapun sampai di rumah.
Dengan hati riang. Basyah mendayung santai sepedanya, bersiul dan menyanyikan lagu P. Ramle dengan judul “Kalau Jodoh takkan Kemana”Di jalan menuju kampungnya, yang di himpit sawah yang sedang menguning. Langit mendung, sesekali kilat dan petir menyambar, Namun Basyah tetap dengan santai mengayuh sepedanya sambil membayangi wajah gadis yang baru saja masuk ke dalam pekarangan rumah, Nyanyian P. Ramle, terus saja dinyanyikan. Tiba-tiba Gurutreum..
Dengan bantuan beberapa masyarakat setempat, Basyah dilarikan ke rumah sakit. Dengan upaya yang dilakukan para dokter, Basyah kini sembuh total setelah menjalankan beberapa kali operasi kulitnya yang terbakar, akibat disambar petir.
Pada suatu sore, aku dan Basyah duduk di balai kemanan kampung, beberapa remaja putri yang tidak kami kenal, berserahgam biru mendatangi dan menanyakan rumah Tgk. Keuchik, saat mereka berbalik, aku membisiki Basyah.
“Hei.. Kaulihat gadis-gadis tadi.”
“Ya. Ada apa?”
“Wah begitu cantik-cantiknya mereka.”
“Ah. Kamu ini, kalau masih gadis kambing aja kita solek, kelihatan cantik.”
“Huhahaha...ada..ada saja kamu Basyah. Memang kamu cocok di gelar dengan nama Basyah Geulanteu cang.”[].

Bluek, 14 Maret 2015Nama Pena : Jabal Bluek
Nama Adm: Muhammad Jabannur, SHI, MAP
Pekerjaan  : ASN di Jajaran Pemerintah Pidie

Friday, November 24, 2017

STRATEGI DEMI CINTA BANG HIM


Beberapa kali ibrahim meluapkan amarahnya ke arah dinding, sorotan mata para tamu yang hadir tak membuatnya malu, matanya belalakan seolah ingin menerkan setiap orang yang melihatnya.

Lagi-lagi ibrahim memukul. "Brak..brak..brak...brak" Hingga ia terjatuh kelantai. "Mengapa kau lakukan ini...rindu..!! Ujarnya, beberapa tamu yang mengenalinya, mencoba mendekat, saling bertanya antara satu sama yang lain. 

"Apa yang terjadi.!Siapa dia..? Mengapa dia..? tangannya kok berdarah."

Ibrahim bangkit dan berjalan terpental dengan gaya orang mabuk "Minggir.!" Sembari menerobos sembarangan dalam kerumunan para tamu. "Apakah kalian tadi bertanya; Apa yang terjadi.!Siapa aku..? Mengapa aku..? tanganku kok berdarah..? Kesana kalian tanya." sembari menunjuk ke arah pengantin, yang baru saja selesai ditepung tawari.

Arah mata para tamu yang hadir, semua tertuju pada bunga yang menjadi pengantin baru, di hari ini.

"Bungaaaaa..!!!" Teriak Ibrahim, semua orang tersentak, diam dan berkotek, musik Hoss ikut dimatikan, langkah serentak berhenti, suasana langgeng, mereka saling menatap antara bunga dan Ibrahim, para tamu juga saling bertatapan, mereka semua dengan wajah penuh tanya. Bunga menatap tajam kewajah Ibrahim. Ibrahim dengan gaya sempoyongannya, terus berjalan. Kaki bunga di gerakkan menuruni teratak panggung pelaminan itu, melangkah berjalan ke arah Ibrahim.

"Apa yang engkau lakukan Bunga.?" Tanya Ibrahim.

"Tidak.! Bang Him, jangan salahkan aku."

"Siapa juga yang harus disalahkan?. Apakah aku harus menyalahkan tuhan..? Kau memang kejam bunga, kau menghianati cinta dan kesetianku."

Bunga menangis, "Tidak bang Him, tidak. Jangan salahkan aku. Dalam hal ini bang Himlah yang bersalah, berapa kali sudah bang Him menunda-nunda untuk melamarku pada orang tua, tapi Bang Him tetap juga tidak menepati janjinya."

"Bunga, aku kan sudah bilang, kita tunggu beberapa bulan lagi, menunggu terjualnya sapi jantan yang aku peliara itu, malah engkau memutuskan meninggalkanku dan bersanding dengan laki-laki lain."

"Sudah cukup, bang Him, sudah cukup, malu dilihat yang lainnya." Ucap Bunga sembari berbalik ke arah pelaminan dan meninggalkan Ibrahim, beberapa petua gampong ikut memujuk Ibrahim, agar segera meninggalkan acara ini.

"Bunga.! Dengar kau boleh me
ninggalkanku, tapi ingat aku tidak akan pernah meninggalkan cintamu sampai mati." Tanpa pikir panjang, Ibrahim berlari dengan kencang, lalu membenturkan kepalanya di dinding kamar Bunga, dan ianya tergeletak jatuh dan pinsan.

Bunga yang melihat, kejadian itu langsung berteriak. "BANG HIM....." Dan lari menuju Ibrahim yang pingsan, Bunga mengangkat kepala Ibrahim.

"Oh. Darah.!" Bungapun menangis." Mengapa engkau lakukan ini Bang Him,.. Mengapa..?"

Ayah Ibrahim datang dengan membawa satu timba air, dan menyiraminya. "Mantong ka eh, sampou inohat, kon kajak koh eumpeun lumo keudeh. Kupugah han kubi meujaga malam klo, keuh (Masih tidur jam segini, mestinya kau potong rumput untuk lembu)!"

"Oh..oh..emmm.. Bunga..bunga... pakon meunan bunga." Ibrahim terkejut.

"Peu.. Bunga-bunga, lon kon bunga hai gam dan peu-peu pakon meunan, kon kusiram ie keuh, peu kaeh tan beudoh- beudoh."

"Oh.. Ayah, agaou."

"Man peu kapike le kah, lon sibunga?"

"Yah.. Neupeublou keudeh lumo agamnyan hai.!!Neujak lamar si Bunga keudeh, jih han ek dipreh le. Bek sampe icok legob."

"Bah icok, keudeh, nye jih galak dih keukah, ada beu siribei thon dipreh, meunye memang tan galak, meu lhei buleun tan ek dipreh."

"Kamate kei Yah..Eee, kiba cara icok jieh legob euntreuk."

"Alah hai gam. Nye jih icok legob, hana masalah, dum laen hai, Tapi meunye lumo agam nyou icok le gob, pan tamita laen."

"Ka palou, tamat riwayat cinta kei. Nye lageinyou yah teuh."

Kalah debat dengan ayah, Ibrahimpun segera mencari pakan lembu jantannya.

**
Seminggu kemudian. Ibrahim menyampaikan semua persoalan atas apa yang di hadapi dengan keluarganya khususnya dengan sang Ayah. Cintanya Ibrahim ke bunga memang cinta mati begitu pula sebaliknya. Suatu hari tanpa pikir panjang, Ibrahim dengan Bunga, merencanakan sesuatu, dengan resiko yang di hadapinya. Strategi di atur dengan sedemikian rupa, sungguh sangat dipropagandakan. Mustahil bagi mereka mendapat restu orang tua dan tak mungkin juga melaksanakan resepsi pernikahan seperti yang dilakukan para temannya, namun hanya dengan modal uang sebesar lima ratus ribu rupiah mereka berniat menyatukan cinta.

***

Henpon seululer, Keuchik Yakop berdering. "Driiingg...dringgg.." Keuchi Yakop membuka Henponnya dengan nomor tanpa nama.

" Ya. Halo, dengan siapa ini..?" Tanya pak Keuchik

"Apkah benar ini, keuchik gampong siren, kecamatan geureubak."

"Oh.. ya.. ya.. Benar. Ini dengan saya sendiri, ini dengan siapa ya..?" Tanya Keuchik Yakop.

"Ini dari kantor, WH pak. Apakah benar Ibrahim dan Bunga adalah masyarakat bapak?"

"Ibrahim yang mana ya...pak,? kalau Bunga benar dia masyarakat saya."

"Ibrahim anaknya Tgk. Makam."

Suasana di kantor WH, penuh tawa, begitu juga dengan bunga, mereka menjadikan propaganda ini sebagai lelucon.

"Si Brang, bilang sama pak keuchik" bisik Ibrahim pada kawan lamanya Faisal yang salah satu anggota WH di kabupaten Ibrahim, tinggal.

"Oh. Ya pak, baru ingat, si bram anaknya Tgk. Makam. Ya benar dia juga warga saya. Ada apa pak ya..? Tanya keuchik Yakop. 
Hendpon, di ambil alih, oleh Ibrahim, dengan memberi sedikit penutup pada cerbong Hendpon, agar keuchik tak mengenal suaranya " Begini pak keuchik, barusan si Ibrahim, dan Bunga ketangkap oleh kami, jadi mereka sedang kami proses, sekarang bapak coba panggil ayahnya Ibrahim kerumah bapak, tapi ingat pak keuchik jangan sampai yang lainnya tau, begitu juga dengan perangkat dan tuha peut."

"Baik. Pak..! Saya akan panggil dulu orang tuanya si Ibrahim."

Tak begitu lama, Tgk. Makam pun, hadir di rumah pak Keuchik. Kali ini pak keuchik yang menelpon dengan tingkahnya yang tergesa-gesa. Tgk. Markam yang sejak dari tadi was-was bercampur aduk dengan malu.

"Aduh.. Bagaimana ini, katakan pada WH." Berbisik, pada keuchik.
 

" Bahwa saya akan melakukan apaun, asal jangan sampai ada yang tau."

"Ya. Halo. Pak..! Beginipak, kata orang tuanya si Ibrahim, dia akan mengikuti semua syarat, asal jangan ada siapapun yang tau mengenai penangkapan si Ibrahim dan Bunga."

"Coba aktifkan speker, biar Tgk. Makam langsung mendengarnya. Baik.! Katakan pada orang tuanya si Ibrahim, suruh ia datang kerumah orang tuanya Bunga, untuk melamar sekarang juga, Bapak keuchik juga harus ikut. Mereka baru kami lepaskan, di saat ada telpon masuk ke hendpon Bunga, dari keluarga bunga yang bahwa. Orang tua si Ibrahim datang untuk melamar bunga, jika di lakukan terlalu lama, kami takut ada wartawan yang datang kesini, dan pasti akan dimuatnya di koran."

"Baik. Pak.. Baik."

Keuchik dan Tgk. Makam, pulang kerumah, meminta emas yang disimpan oleh isterinya, dua manyam, tak tunggu lama-lama langsung meluncur kerumah Bunga. Kebutulan ayah bunga dan abang kandung bunga berada di rumah, mereka disila masuk dan di hidangkan alakadar minuman. Keuchik Yakop pun, menyampaikan maksud tujuan, ayah dan ibu bunga menyetujui, begitu juga dengan Yunus abang bunga.

"Baik kami setuju atas pertunangan ini dengan tenpo satu bulan, sekarang tinggal menunggu jawaban dari bunga."

Dengan sepontan, Tgk. Makam berujar. " Langsung telpon, Telpon siat Yunus.." Perintah Tgk. Makam pada abangnya Bunga. Ayah dan ibu bunga tersenyum, tapi keuchik yakop, sedikit menggigit bibirnya.

***

"Halo. Bunga.. Assalamualaikum,"

"Ya. Ada apa abang." dengan mengaktifkan speker, sehingga Faisal dan Ibrahim mendengar apa yang disamapikan oleh abangnya. Namun di rumah bungapun, yunus juga mengaktifkan sepeker.

Begini dik, ini dirumah kita ada tamu, yaitu orang tuanya Ibrahim, mereka ingin meminangmu untuk menjadi isteri Ibrahim, dengan perjanjian tunggu selama satu bulan."

"Baik. Abang saya menerimanya, ini saya lagi di rumah Rahmah Bang, saya akan pulang juga sekarang.

" Suasana di rumah Bunga, semua mengucapkan alham dulillah. Sementara suasana di rumah Faisal, yang berperan sebagai kantor WH. "Horee..hore... Merdeka." ucap Bunga dan Ibrahim yang di ikuti tawa membahana Faisal.

"Wadduh. Kok. Hore.. lalu mereka tertawa, juga terdengar suara laki-laki, kayak seperti suara anakku. Hati Tgk. Makam, bergumam sendiri, "Inilah Cinta dan deminya, saya ditipu. Dasar cinta Sejati, huf... semoga mereka bahagia dunia wal akhirat"[]


Bluek, 08 Desember 2016
Penulis;
Nama Pena: Jabal Bluek.
Nama Adm: Muhammad Jabannur, S.HI., M.A.P
Pekerjaan  : ASN di Jajaran Pemerintahan Pidie





Aku Anak Yatim

Aku anak yatim

Yang hanya menghelus dada saat teman memanggil Ayah 
Yang hanya menghelus dada saat teman bertamsya dengan Ayah 
Yang hanya terdiam dalam kelam saat suara takbir berkumandan 
Yang hanya menagis di pusaranya di pagi lebaran

Mengapa cepat kau pergi Ayah..?
Tanya yang takkan pernah kudapatkan jawaban

Ibu sibuk dengan Ayah dan adik baru di tempat yang berbeda 
Paman, Bibi sibuk dengan kerja dan keluarganya 
Para tetangga menutup telinga  Saat tiba jeritanku, mereka semua tiada

Aku anak yatim

Yang selalu di lecehkan karena sifat dan sikapku yang kurang ajar 
Yang hanya bisa menangis saat persoalan datang 
Yang hanya di marahi tapi tak pernah di nasehati
Yang selalu dikucil oleh para teman

Aku anak yatim

Yang mengharap belai kasih 
Aku anak yatim, yang dijanjikan Nabi  sebagai anak yang Istimewa 
Bukankah para ayah juga ayah bagi ku

Aku anak yatim

Wahai para ayah, akulah anak kalian 
Wahai para ayah, akulah ladang mencari pahala 
Wahai para ayah, aku juga memiliki cita dan harapan

Wahai para ayah
Akulah anak yatim
Akulah anak kalian

Bluek, 19 Juni 2016Karya: Muhammad Jabannur, S.H.I., M.A.P (Jabal Bluek)Aparatur Sipil Negara di Pemerintahan Pidie

Thursday, November 23, 2017

GUBUK TETAP GUBUK


Dua belas tahun silam rumahku gubuk 

Dua belas tahun silam gubukku bagaikan hotel berbintang
Tempat menginap, tempat bersembunyi dan tempat peristirahatan Para Pejabat dan para kontraktor sekarang.

Dua belas tahun silam rumahku gubuk

Dua belas tahun silam gubukku bagaikan gudang persenjataan
Tempat bongkar pasang senjata dan meriam
Tempat pembagian senjata untuk dipertanggung jawabkan

Dua belas tahun silam rumahku gubuk

Dua belas tahun silam gubukku bagaikan kantor
Tempat mengatur strategi perang
Tempat arsip dokumen perang dan
Tempat pemecah berbagai soalan

Dua belas tahun silam rumahku gubuk

Dua belas tahun silam gubukku bagaikan restoran besar
Tempat  makan minum para pejuang

Dua belas tahun silam

Gubukku bagaikan hotel berbintang
Gubukku bagaikan gudang persenjataan
Gubukku bagaikan Perkantoran
Gubukku bagaikan Restoran besar

Itu hanya, dua belas tahun silam
Kini rumahku masih tetap gubuk
Yang tidak pernah diperhatikan, oleh para pengguna gubukku
Pdahal mereka telah kenyang

Gubuk saksi kunci perjuangan


Bluek, 08 November 2014 

Karya: Muhammad Jabannur, S.H.I, M.A.P (Jabal Bluek)
Aparatur Sipil Negara di Pemerintahan Pidie